Enam Bulan
Tubuhku sebetulnya lelah, namun kantuk seakan menguap, entah pergi ke mana. Pikiranku memang sedang mengelana. Akhirnya, tukang yang membangun rumah kami besok akan berpamitan. Akhirnya, setelah enam bulan tinggal mengontrak di rumah kakek dan nenek, besok aku akan melangkah kaki, dan tidak akan pernah kembali lagi tinggal di sisi nenek dan kakek. Rasanya, perpisahan selalu mengundang air mata. Ada sedikit ketidakrelaan. Rumahku sudah jadi. Aku senang, tentu. Namun, aku harus berpisah dari nenek dan kakek. Pemilik rumah yang sangat ngemong, ngayomi, dan membuat kami nyaman tinggal di sini. Pagi tadi, nenek menangis. Menyadari, kalau aku dan nduk, tidak akan menjadi tetangga temboknya lagi. Biasanya kami selalu meramaikan hari dengan Zoya yang berangkat pagi, dan aku yang berangkat kerja. Besok, kami akan meramaikan sekali lagi, dengan membawa tukang yang banyak, dengan keramaian yang tidak seperti biasanya, namun setelah itu, seperti kembang api, meriah, kemudian lenyap. Ma...







