6 Ramadan 1447H - Ujian Cinta

 

Aku perempuan. Hidup di lingkungan yang masih menganut paham patriarki, sering membuatku lelah. Aku perempuan. Aku tidak ingin dimuliakan segala rupa seperti seorang ratu, aku hanya ingin dibantu dan diberi waktu untuk tidur tanpa gangguan apapun, sehari saja. Aku perempuan, aku bekerja, aku mengasuh anak, aku mengurus rumah. Aku perempuan. Ini sedikit kisah tentangku, tentang perempuan.

Beberapa waktu ini, aku merasa cukup kelelahan. Tidak sepantasnya, aku mengeluh. Allah sudah memberikan nikmat yang begitu banyak, dengan rupa yang beragam. Aku tidak sedang mengeluh. Hanya aku merasa, aku sendirian.

Aku seorang dosen dan seorang kaprodi. Lama nian menunggu waktu untuk tiba di posisi ini. Maka dari itu, aku tidak akan dengan mudah melepaskan cita-cita untuk memberdayakan diri hanya karena lelah. Tidak. Mentalku tidak selemah itu. Hanya saja, terkadang aku ingin tidur. Aku ingin ada waktu untukku sendiri. Melepaskan semua interaksi sosial barang sebentar saja. Kemudian melihat alam, menikmati tadabur dalam kesendirian.

Namun, aku seorang perempuan, aku seorang ibu. Anakku mulai tidak mewarisi sifatku dan papanya, sebab kami jarang bersamanya. Sifat lembutnya mulai kabur. Dia mulai keluar dari radar kami. Dilema itu hadir di sini, sampai aku memutuskan untuk memilih sekolah jenjang TK dengan sistem Full Day School, agar dia kembali masuk ke radar, meski kami sibuk bekerja.

Aku perempuan, ada perasaan sunyi sendirian, yang hanya Rabb dan diriku sendiri yang memahami. Aku pernah tersesat, dulu sekali sebab ujian sepi ini. Aku tidak mau mengorbankan Rabbku, imanku, anakku, demi kesenangan sesaat dan kepedihan dunia akhirat. Tidak. Apapun, aku punya Rabbku.

Aku perempuan. Ternyata tidak mudah menjadi perempuan. Namun, Zahra. Lebih tidak mudah lagi, menjadi perempuan yang bekerja sebagai tulang punggung utama keluarga, bukan? Zahra, kamu di posisi ini, sebab kamu mampu. Kamu bukannya tidak bersyukur, Zahra. Kamu sedang di posisi yang mungkin orang lain akan berat menjalaninya, hanya saja, kamu mampu, sebab ada Allah, sekali lagi ada Allah, dan cukuplah bagimu Allah.

Zahra, mungkin ada banyak perempuan lain di luar sana, yang mendambakan posisimu saat ini. Maka dari itu, tersenyumlah. Rabb bersamamu. Lembutkan suaramu kepada anakmu, dan doakan dia. Salatlah, agar lembut akhlaknya.

Aku perempuan, boleh kan aku menangis? Mungkin selama ini, ruh ini telah jauh dari jalan-Nya, sehingga rasanya kosong. Jangan pernah tinggalkan Rabbmu. Berzikirlah! Berkumpullah dengan orang saleh, cintailah beliau orang-orang saleh karena Allah.

Tersenyumlah. Allah bersamamu.

Hamasah.

 

Ramadan hari ke 6 1447H

Comments

Popular Posts