TIGA PULUH SATU TAHUN

 

Foto hanya pemanis. Bersama Bapak Rio, Kaprodi Korea Universitas Gajahmada dan Ibu Euis, Kaprodi Korea Universitas Indonesia, kami bersua di Jakarta, SMESCO Invention Hall untuk menghadiri Korean Global Edufair

Dahulu sekali, saat Zoya masih menyusu, saya berjanji kepada diri saya untuk menikmati momen tersebut. Sebab di masa yang akan datang, saya yakin akan tiba hari yang sangat sibuk, sehingga membutuhkan bantuan orang lain untuk ngemong buah hati kami tersebut. Hari yang sangat sibuk itu sudah tiba. Hari ini, Allah memberikan beberapa amanah sekaligus yang saya emban. Termasuk mendidik Zoya, tentunya. Namun saya butuh menorehkan sedikit catatan, sebab kegalauan hati yang terkadang tidak mampu diuraikan, kecuali dengan bercengkerama dengan diri sendiri, melalui menulis.

Hari ini, usia saya genap 31 tahun. Usia yang matang untuk manusia. Dalam mata kuliah Pertumbuhan dan Perkembangan Peserta Didik, usia ini termasuk usia dewasa dan sedang menuju puncak masa karier. Saya mengamini itu.

Meski tidak sehebat lainnya, namun saya sangat bersyukur dengan amanah dan jalan hidup yang Allah berikan. Hari ini, meski masih perlu banyak belajar, saya sudah menjadi dosen, sebuah cita-cita yang saya impikan, tahunan lalu.  Bahkan di kampus, termasuk yang senior padahal masih berpengalaman selama dua tahun. Sebab kemarin berkesempatan nderek pendirian, sehingga dibanding dosen yang baru datang, tentu saya termasuk yang lama di UMINA. Namun saya lupa satu doa yang spesifik, kalau menggunakan istilah sekarang, promt nya kurang lengkap. Meski demikian, saya justru bahagia. Sebab Allah yang memilihkan sisa promt yang tidak sempat saya lengkapi itu. Dan, adakah tandingan yang lebih baik dibanding pilihan Rabb?

Hati saya sering gelisah. Terkadang ada persaan takut, takut apakah saya sudah amanah? Takut apakah yang Allah tetapkan hari ini, dititipkan hari ini sudah saya berikan semaksimal mungkin? Saat sulit memejamkan mata, saya menoleh, menyalakan lampu sebentar, dan memandangi Zoya, buah hati kami. Seketika, tubuh mungil yang kini memanjang itu saya dekap. Zoya adalah amanah terbesar Allah, dibanding amanah lainnya. Sudahkah saya mencukupi kebutuhan zahir batinnya? Sudahkah saya mendidiknya dengan baik? Sudahkah saya mencurahkan segalanya untuknya? Tidak jarang, saat memandangi wajah dengan pipi bulat itu, saya menangis. Meski demikian, saya selalu berpamitan, “Nduk, mama nderek mengabdi untuk umat. Zoya juga demikian nantinya.” Setelah mengatakan itu, saya menerawang jauh. Allah mengirimkan semua amanah di pundak ini, hari ini, sebab Allah yakin bahwa saya mampu. Ini yang akan selalu menjadi puncak kesadaran yang ingin saya rasakan setiap detik.

Papa pernah mendidik saya, untuk menikmati rasa sakit. Rasa sakit sesakit apapun, nikmatilah. Jangan sampai keluar keluhan dari lisan, hati dan pikiran. Meski lelah melanda, kurang istirahat yang proper, saya tetap sangat berusaha untuk mempraktikkan itu. Walau masih sering tidak lolos, namun saya bahagia.

Hidup yang saya jalani hari ini, adalah rententan doa-doa yang dulu pernah dipanjatkan. Allah yang menjaga kami, Allah yang membawa kami. Ke manapun Rabb memutuskan, maka kami hanya bisa mengatakan, “Kami mendengar dan kami patuh.” Namun, kami manusia, yang sering lalai dan lupa. Meski demikian, saya sangat mensyukuri apapun nikmat yang Allah berikan.

Hari ini, Little Bloom menerima siswa yang cukup banyak, 30 an dalam waktu dua bulan berjalan. Ini kabar baik, namun jika tidak dikelola dan dimanaj dengan baik, akan menjadi tidak baik. Berbarengan dengan masuk kelas yang mengajar SKS lebih dari 20, lalu ditambah dengan sebagai Ketua Tim akreditasi prodi Korea, plus saya juga menerima saat ditawarkan sebagai Editor in Chief Serat Aksara Journal dahulu. Dengan hal-hal tersebut, saya terkadang merasa kurang bisa mengatasi. Namun, saya tidak ingin mengeluh. Justru saya ingin fokus pada solusi bagaimana caranya agar semua teratasi dengan baik. Setelah menerima saran dari suami, dari sahabat saya, saya menjadi sedikit lebih ringan. Memang, ilmu hidup seperti ini akan sangat berarti. Akhirnya, manusia akan terus belajar dan mencoba menelaah segala ihwal kehidupan. Namun, saya highlight terutama ada pada manajemen waktu, fisik, finansial, energi, dan lainnya. Beruntung sekali saya memiliki Pasangan Hidup yang selalu membimbing, serta sahabat terbaik yang selalu mengingatkan kepada Rabb, dan memberikan wejangan yang sangat saya butuhkan. Semoga, amanah yang Allah berikan bisa menjadi ladang untuk beribadah kepada umat. Semoga, sisa hidup ini bisa menjadi waktu yang berguna bagi umat. Semoga.

Blitar, 22 Oktober 2026

 

 

Comments

Popular Posts