PUSING ADALAH TANDA BERFILSAFAT
Ekka Zahra Puspita Dewi, S.Pd., M.Pd.
Kemarin kami masih membahas seputar pokok persoalan
filsafat, kemudian hari ini tiba di bagian ontologi. Dalam ontologi, kami
mengkaji seputar metafisika, yakni entitas dari meta-phy sica, sesuatu di luar
fisik. Di luar kebendaan ini bukan berarti mengarah kepada hal ghaib, namun
juga termasuk dalam pikiran, imajinasi, dan konsep realitas. Kawan-kawan mahasiswa
saya berikan handout sebelum kelas, dan handout tersebut wajib di baca agar
bisa connected. Ketika di kelas pun, kami mengkajinya bersama.
Dalam handout, salah satu materi yang menarik
adalah entitas realitas, yakni konsep dari ada dan tidak ada. Walaupun sederhana,
namun ternyata realitas dari ada dan tidak ada ini tidak sesederhana ‘Nasi ada
di meja.’ ‘Nasi tidak ada di meja.’ Konsep realitas mengajarkan bahwa eksistensialisme
suatu benda dinyatakan ada, apabila ia memiliki wujud materialis ataupun secara
abstrak, bahkan imajinatif. Menyatakan ‘Nasi ada di meja’ dibandingkan dengan ‘Nasi
tidak ada di meja’ yang karena dipindahkan tempatnya, atau dimakan, misalnya,
bisa dipertanyakan terkait keberadaannya. Kalau nasi dipindahkan, berarti ia
tetap ada. Bagaimana sesuatu yang ada dikatakan tidak ada? Dalam lingkup linguistik,
dijumpai kata keterangan ‘di meja’ sehingga membuat keberadaan nasi hilang di
meja. Namun hakikatnya, jika nasi tersebut dipindahkan di atas kursi misalnya, realitasnya
ia tetap ada. Jadi bagaimana kesimpulannya? Nasinya ada atau tidak ada? Di sinilah
letak keseruannya. Kawan-kawan mahasiswa mulai menyampaikan, ‘Pusing, Miss’.
Saya tersenyum, karena mereka mulai berfilsafat.
Selanjutnya, kami mendiskusikan tema kosmologi,
teologi dan antropologi. Pada kosmologi, hal sederhana yang kita bahas adalah
tentang konsep alam semesta. Saya sampaikan bahwa kosmologi tidak hanya
menjelaskan nama-nama planet, nama tata surya, nama satelit, meteor, komet dan benda-benda
langit lainnya. Melainkan mengajak kita untuk memikirkan sejauh mana relevansi
antara alam semesta dengan kehidupan kita. Jika dipikir ulang, alam semesta
sebegitu besarnya, memiliki keterkaitan apa dengan kehidupan umat manusia? Bagaimana
hakikat hidup jika dipandang dalam sudut alam semesta yang sangat luas? Nah,
mereka mulai memegangi kepala lagi. Saya suka saat mereka pusing, tandanya
mereka berpikir dan berfilsafat, hahaha.
Memasuki ranah teologi, saya menjelaskan secara
singkat, bahwa konsep ketuhanan ini bisa dipikirkan dengan sangat radikal. Tuhan
ini diciptakan oleh manusia, ataukah memang Tuhan yang menciptakan manusia?
Mulai di sini saya menegaskan batasan kepada Kawan-kawan, bahwa yang kita
diskusikan ini adalah akal dan penalaran. Serta iman, tidak perlu nalar dan
akal. Iman letaknya di hati. Saya cukup berhati-hati agar tidak dianggap menyebarkan
ajaran sesat. Hahaha.
Saya memberikan contoh nama dewa-dewa Yunani kuno,
seperti Zeus, dan lainnya. Mereka mengatakan dewa petir, sebab pada saat itu, ilmu
pengetahuan belum bisa menjelaskan asal mula petir. Sehingga dengan
keterbatasan tersebut, manusia membuat mitos. Jika ditilik lagi, aliran animisme
penyembah pohon, sebetulnya mereka melestarikan alam melalui mitos tersebut. Masyarakat
mengatakan bahwa pohon tersebut memiliki penunggu, sehingga manusia menjaga
pohon, eksistensi alam bisa tetap terjaga. Berbeda ketika mitos tidak
diciptakan oleh manusia, manusia akan merusaknya. Di Jawa ada juga ketika gerhana
tiba, maka Buto memakan bulan. Masyarakat harus memukul kentongan agar Buto
memuntahkan bulan tersebut. Hal itu semua terjadi karena memang manusia belum
bisa menjelaskan secara ilmiah dan logis tentang konsep terjadinya gerhana.
Setelah itu, kita masuk dalam materi
antropologi. Mengenal manusia ini memang unik. Ada definisi manusia, bahwa
manusia adalah hewan yang diberikan akal. Bisa demikian. Ada juga yang
menyampaikan, satu-satunya makhluk yang mengenal realitas dirinya, adalah
manusia itu sendiri. Dalam dogma agama, kita diskusi jauh saat itu. Mas Hamdana
selaku santri Pondok Kiai Dawami, memberikan perspektif yang saya baru
mendengar saat itu, yakni manusia ini memiliki privilese yang berbeda dari
lainnya. Iblis saja menyembah Allah dalam kurun waktu yang sangat lama. Sekali tidak
patuh, langsung dihukum di neraka selamanya. Manusia? Mereka berkali-kali
berbuat salah, namun Allah masih memberikan taubat. Saya menerima perspektif
Mas Hamdan aini dengan kagum. Memang benar. Manusia ini unik sekali. Menurut
Freud, manusia memiliki id, ego, dan superego yang membuat manusia unik serta
bisa memiliki peradaban.
Membahas metafisika memang asyik. Tidak terasa
waktu berlalu, sehingga materi saat itu harus dirampungkan saat itu juga. Selanjutnya
kami masuk dalam penjelasan epistemologi dan aksiologi untuk pekan selanjutnya.
Blitar, 17 April 2026



Comments
Post a Comment