PUSING ADALAH TANDA BERFILSAFAT

 

Ekka Zahra Puspita Dewi, S.Pd., M.Pd.

 Semester ini saya mengampu salah satu mata kuliah favorit saya dahulu, yakni Filsafat Pendidikan. Dikarenakan ini mata kuliah penalaran, logika dan teori, saya melaksanakan perkuliahan dengan system teacher-centered, yakni metode ceramah. Saya sempat menawarkan kepada Kawan-kawan mahasiswa PBING 2025, mau presentasi atau tidak sebab semester kemarin di Pertumbuhan dan Perkembangan Peserta Didik, kami sudah menerapkan presentasi. Kami akhirnya tiba pada mufakat bahwa mata kuliah ini full penjelasan dari dosen, mereka akan membuat resume materi setiap selesai perkuliahan. Saya ingin anak-anak mengenal penulisan via blog, atau metode Instagram itu, saya lupa namanya. Kemudian untuk untuk evaluasi penilaian bisa dilihat dari quiz yang diberikan saat di kelas serta hasil resume selesai pertemuan.

Kemarin kami masih membahas seputar pokok persoalan filsafat, kemudian hari ini tiba di bagian ontologi. Dalam ontologi, kami mengkaji seputar metafisika, yakni entitas dari meta-phy sica, sesuatu di luar fisik. Di luar kebendaan ini bukan berarti mengarah kepada hal ghaib, namun juga termasuk dalam pikiran, imajinasi, dan konsep realitas. Kawan-kawan mahasiswa saya berikan handout sebelum kelas, dan handout tersebut wajib di baca agar bisa connected. Ketika di kelas pun, kami mengkajinya bersama.

Dalam handout, salah satu materi yang menarik adalah entitas realitas, yakni konsep dari ada dan tidak ada. Walaupun sederhana, namun ternyata realitas dari ada dan tidak ada ini tidak sesederhana ‘Nasi ada di meja.’ ‘Nasi tidak ada di meja.’ Konsep realitas mengajarkan bahwa eksistensialisme suatu benda dinyatakan ada, apabila ia memiliki wujud materialis ataupun secara abstrak, bahkan imajinatif. Menyatakan ‘Nasi ada di meja’ dibandingkan dengan ‘Nasi tidak ada di meja’ yang karena dipindahkan tempatnya, atau dimakan, misalnya, bisa dipertanyakan terkait keberadaannya. Kalau nasi dipindahkan, berarti ia tetap ada. Bagaimana sesuatu yang ada dikatakan tidak ada? Dalam lingkup linguistik, dijumpai kata keterangan ‘di meja’ sehingga membuat keberadaan nasi hilang di meja. Namun hakikatnya, jika nasi tersebut dipindahkan di atas kursi misalnya, realitasnya ia tetap ada. Jadi bagaimana kesimpulannya? Nasinya ada atau tidak ada? Di sinilah letak keseruannya. Kawan-kawan mahasiswa mulai menyampaikan, ‘Pusing, Miss’. Saya tersenyum, karena mereka mulai berfilsafat.

Selanjutnya, kami mendiskusikan tema kosmologi, teologi dan antropologi. Pada kosmologi, hal sederhana yang kita bahas adalah tentang konsep alam semesta. Saya sampaikan bahwa kosmologi tidak hanya menjelaskan nama-nama planet, nama tata surya, nama satelit, meteor, komet dan benda-benda langit lainnya. Melainkan mengajak kita untuk memikirkan sejauh mana relevansi antara alam semesta dengan kehidupan kita. Jika dipikir ulang, alam semesta sebegitu besarnya, memiliki keterkaitan apa dengan kehidupan umat manusia? Bagaimana hakikat hidup jika dipandang dalam sudut alam semesta yang sangat luas? Nah, mereka mulai memegangi kepala lagi. Saya suka saat mereka pusing, tandanya mereka berpikir dan berfilsafat, hahaha.

Memasuki ranah teologi, saya menjelaskan secara singkat, bahwa konsep ketuhanan ini bisa dipikirkan dengan sangat radikal. Tuhan ini diciptakan oleh manusia, ataukah memang Tuhan yang menciptakan manusia? Mulai di sini saya menegaskan batasan kepada Kawan-kawan, bahwa yang kita diskusikan ini adalah akal dan penalaran. Serta iman, tidak perlu nalar dan akal. Iman letaknya di hati. Saya cukup berhati-hati agar tidak dianggap menyebarkan ajaran sesat. Hahaha.

Saya memberikan contoh nama dewa-dewa Yunani kuno, seperti Zeus, dan lainnya. Mereka mengatakan dewa petir, sebab pada saat itu, ilmu pengetahuan belum bisa menjelaskan asal mula petir. Sehingga dengan keterbatasan tersebut, manusia membuat mitos. Jika ditilik lagi, aliran animisme penyembah pohon, sebetulnya mereka melestarikan alam melalui mitos tersebut. Masyarakat mengatakan bahwa pohon tersebut memiliki penunggu, sehingga manusia menjaga pohon, eksistensi alam bisa tetap terjaga. Berbeda ketika mitos tidak diciptakan oleh manusia, manusia akan merusaknya. Di Jawa ada juga ketika gerhana tiba, maka Buto memakan bulan. Masyarakat harus memukul kentongan agar Buto memuntahkan bulan tersebut. Hal itu semua terjadi karena memang manusia belum bisa menjelaskan secara ilmiah dan logis tentang konsep terjadinya gerhana.

Setelah itu, kita masuk dalam materi antropologi. Mengenal manusia ini memang unik. Ada definisi manusia, bahwa manusia adalah hewan yang diberikan akal. Bisa demikian. Ada juga yang menyampaikan, satu-satunya makhluk yang mengenal realitas dirinya, adalah manusia itu sendiri. Dalam dogma agama, kita diskusi jauh saat itu. Mas Hamdana selaku santri Pondok Kiai Dawami, memberikan perspektif yang saya baru mendengar saat itu, yakni manusia ini memiliki privilese yang berbeda dari lainnya. Iblis saja menyembah Allah dalam kurun waktu yang sangat lama. Sekali tidak patuh, langsung dihukum di neraka selamanya. Manusia? Mereka berkali-kali berbuat salah, namun Allah masih memberikan taubat. Saya menerima perspektif Mas Hamdan aini dengan kagum. Memang benar. Manusia ini unik sekali. Menurut Freud, manusia memiliki id, ego, dan superego yang membuat manusia unik serta bisa memiliki peradaban.

Membahas metafisika memang asyik. Tidak terasa waktu berlalu, sehingga materi saat itu harus dirampungkan saat itu juga. Selanjutnya kami masuk dalam penjelasan epistemologi dan aksiologi untuk pekan selanjutnya.

 

Blitar, 17 April 2026

 

 

Comments

Popular Posts