Seri 1 - Jakarta I am Coming

 
Gambar 1. Kami sedang memesan makan siang di gerbong makan

Catatan ini saya buat sebagai catatan perjalanan yang bagi saya luar biasa. Ada banyak momen indah yang perlu diabadikan dalam catatan. Sayang kalau sampai terbuang. Karena banyaknya momen indah, catatan ini akan saya buat berseri, dan ini adalah seri pertama, keberangkatan. Silakan dibaca.

Sabtu, 23 Mei 2026 kemarin saya mendapatkan tugas dinas dari kampus saya mengabdi, Universitas Madani Indonesia, Blitar untuk bertandang ke Jakarta dalam rangka mengikuit event International Edu-Fair from South Korea in Indonesia. Setelah mempertimbangkan banyak hal, kampus memberikan saran transportasi berupa kereta api. Saya sangat setuju sebab dengan transportasi umum−transum−tersebut, saya merasa lebih santai dan lega, selain karena alasan transum yang paling saya sukai memanglah kereta api. Karena perjalanan menggunakan kereta api membutuhkan waktu kurang lebih 13 jam, maka saya mempersiapkan banyak hal, termasuk meminta suami untuk menemani tugas dinas tersebut.

Segera, saya memesan dua tiket kereta pulang-pergi dari Stasiun Kota Blitar ke Stasiun Pasar Senen, Jakarta dan juga memesan hotel sekitar SMESCO Convention Hall, Tebet, Pancoran, Jakarta Selatan. Setelah mendapatkan tiket, saya mengabari suami tentang gerbong dan nomor tempat duduk kami, sekaligus hotel yang kami tempati. Saya sangat gembira sebab ini kali kedua saya ke Jakarta, dan saya ditemani suami di sana, tidak sendirian. Suami juga membantu mempersiapkan logistik yang kami butuhkan. Beliau menyarankan untuk membawa barang seperlunya saja. Saya mengamini. Akhirnya kami memutuskan untuk membawa ransel satu, berisi logistik dan baju suami, koper kecil satu berisi baju dan make up saya, tas makanan satu, dan tote bag yang saya jinjing.

Hari yang dinantikan tiba. Saya dan suami segera berpamitan kepada putri kami, Zoya untuk perjalanan dinas ke Jakarta. Awalnya, tentu Zoya ingin ikut. Akan tetapi, putri kecil itu memahami kami saat kami memberikan penjelasan. Meski demikian, sebagai seorang ibu ada sedikit ketidakrelaan meninggalkan Zoya jauh dari kami. Saya harus melatih diri. Toh Zoya bersama ibu saya, tempat paling aman setelah bersama kami orang tuanya.

Pukul 8.45 pagi, kami berangkat dari rumah menuju ke stasiun Blitar. Sampai di sana kurang lebih 8.55. Kereta akan berangkat pada pukul 9.22 pagi. Setelah check in di gate jarak-jauh dan masuk di dalam, sekitar lima menit kemudian, kereta kami tiba. Hal yang saya sukai dari kereta api ini adalah in-time nya. Jadi kami, penumpang harus berangkat sebelum jam keberangkatan.

Lagu Kutho Blitar terdengar mengalun memenuhi seluruh area Stasiun Blitar. Saya dan beberapa penumpang segera masuk kereta. Kami berjalan, mencari gerbong tiga. Setelah ketemu, papa dan saya mendapatkan tempat duduk full jendela. Saya senang dan lega sekali sebab bisa menyaksikan pemandang indah di luar sana, meski mungkin lebih banyak persawahan dan hutan, tapi bagi saya inilah keindahan Indonesia. Segera, kami menata barang-barang yang ditaruh di bagasi atas dan di bawah. Barang berharga seperti tote bag tentu ditaruh di bawah, tas minum, dan logistik juga ditaruh di bawah untuk memudahkan proses pengambilan.

Sebelum kereta berangkat, saya membuka bekal makan, ubi kukus untuk mengganjal perut sebab kami memang belum sarapan. Pagi tadi saya riweh sendiri dengan memasak dan membungkus bekal. Kami belum sarapan karena memang sepakat untuk makan di dalam kereta agar lebih tenang. Saya membawa beberapa sarung tangan plastik untuk makan, memastikan tidak perlu cuci tangan sebab minimnya akses air di dalam kereta. Selain itu, untuk alasan praktis juga. Tidak lupa, beberapa kantong sampah saya bawa sebab ini sudah memasuki masa saya haid. Ada kemungkinan saya haid di kereta atau ketika sudah tiba di hotel nantinya. Sembari menunggu kereta berangkat serta melihat penumpang yang naik, saya mengupas ubi serta mengunyahnya, mengganjal perut yang lumayan lapar.

Pada pukul 9.22 WIB tepat, kereta berangkat. Saya mengucapkan doa perjalanan dan memandang ke luar jendela. Selamat tinggal Kota Blitar. Beberapa hari ini akan kami tinggalkan sebentar. Ada perasaan sedikit tegang ketika akan mengunjungi Ibu Kota Indonesia, Jakarta. Bagi anak daerah seperti saya, ini adalah momen yang sangat menyenangkan. Saya segera bersiap untuk melewati empat provinsi di Pulau Jawa dalam waktu 13 jam mendatang.

Papa terlihat nyenyak, sebab semalam memang beliau tidak tidur. Ada event beliau di Tulungagung yang selesai pukul 01.00 dini hari. Beliau sampai di rumah pukul 02.30 WIB. Jadi saya biarkan beliau istirahat di dalam kereta. Tidak lupa, saya bawakan bantal leher, masker dan kacamata tidur agar lebih nyaman dan nyenyak.

Gambar 2. Papa istirahat di kereta api, sembari guyoni istrinya dengan memakai bantal leher di kepala

Singkat cerita, saya ikut tertidur dari stasiun Tulungagung. Saya kembali melek ketika sudah tiba di Stasiun Madiun. Segera, saya hubungi Kepala BAAK UMINA, Mbak Ati, tentang saya tiba di stasiun Madiun, sebab kota itu adalah tempat kelahiran Mbak Ati. Mbak Ati menjawab dan memberikan beberapa informasi sejarah kota Madiun. Sebab saya tidak memiliki saudara di sana, saya belum pernah bermain ke kota tersebut. Perjalanan berlanjut. Saya tidur kembali, dan melek di Stasiun Semarang. Saya mengamati ibu kota Jawa Tengah tersebut, kota yang besar dan indah. Di tengah perjalanan, Ida Ssaem, dosen Bahasa Korea UMINA yang akan menghadiri event tersebut memberikan informasi bahwa beliau sudah berangkat dari Jogja dan akan turun di Stasiun Jatinegara. Saya menyampaikan akan turun di Stasiun Pasar Senen. Beliau menginformasikan bahwa Jatinegara lebih dekat ke Pancoran dibandingkan dengan Pasar Senen. Sebab saya tidak tahu, suami juga kurang tahu, saya mengikuti saran Ida Ssaem, dan akan turun di Stasiun Jatinegara nantinya. Kami janjian akan bersua besok, di SMESCO.

Siang berganti malam. Malam harinya, saya lebih banyak tidur. Jawa Barat kami lewati penuh dengan tidur. Akhirnya, kereta kami melewati stasiun Bekasi Timur. Saya langsung teringat peristiwa naas yang terjadi beberapa waktu lalu, kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek dan Commuter Line dengan korban 100% perempuan. Segera, hati saya terenyuh. Dari Blitar ke Bekasi memang terasa jauh. Namun hari itu, saya melewati tempat kejadian, rasanya begitu dekat. Saya segera teringat nasihat ibu, “Ketika mengingati kejadian yang pedih saat kecelakaan, kirimkan hadiah fatihah kepada yang mendahului. Doakan, agar mereka tenang, dan agar jiwamu juga ikut tenang.” Setelah mengirimkan fatihah kepada ke 18 bidadari surga itu, dengan izin Allah, saya lebih tenang. Setelahnya, kami bersiap untuk turun ke stasiun Jatinegara. Here we go, Jakarta, we’re coming

Turun dari kereta, kami naik eskalator untuk ke atas, menyeberangi rel kereta, dan turun ke bawah dengan eskalator untuk kembali ke pintu keluar. Stasiun Jatinegara adalah stasiun yang indah, megah dan bersih. Saya sangat menyukai KAI karena kebersihannya sangat terjaga. Bravo, KAI. Setibanya di pintu keluar, saya dan suami memutuskan untuk makan di food court stasiun. Melihat berbagai macam lauk, pilihan kami jatuh kepada soto ayam dan tambahan, papa memesan kopi hitam. Saya mengamati Jakarta di jam 23.20. Istilah Jakarta tidak tidur memang tepat. Jalan raya masih ramai kendaraan berlalu-lalang. Bangunan megah untuk jalur bus Trans-Jakarta berdiri kokoh di depan kami. Setelah menunggu lima belas menit, soto kami dihidangkan. Ada mangkuk keramik cekung yang berisi soto, dan nasi di piring. Tidak berapa lama, pelayan menghidangkan kondimen di meja kami. Meski bersantan, saya berharap rasa soto ini sesuai dengan lidah saya. Saya adalah pecinta soto kuah bening. Tanpa menunggu lama, saya mengincip sesendok kuah sotonya. Sembari tersenyum ke papa, saya mengatakan, “Papa, ini enak sekali. Ayo dimaem selagi masih hangat.” Beliau yang baru saja menyeruput kopi segera ikut mencoba sesendok kuah. “Hmm, ini pasti istriku suka. Aku tahu seleramu.” Tanpa berlama, kami menyantap soto stasiun Jatinegara sebagai makan malam. Meski jam makan kami kacau, setidaknya, kami kenyang. Bekal kami sudah habis siang tadi, sehingga kami harus kenyang agar tidak kelaparan di hotel.

Gambar 3. Kami makan soto di food court Stasiun Jatinegara, Jakarta

Setelah makan, ada bapak-bapak datang dan menawarkan kami tumpangan. Karena ini kota orang, kami tidak mau beresiko. Kami memilih taksi online yang ada asuransi keselamatannya untuk mengantar ke hotel. Dengan tetap sopan, kami menyampaikan tidak membutuhkan jasa bapak tersebut untuk mengantar. Setelah kenyang, papa kembali merokok. Beliau melepaskan penat setelah 13 jam tidak boleh merokok sama sekali. Saya juga bersantai, sembari menikmati pemandangan Ibu Kota yang sangat riuh. Mungkin, di jam yang sama, Blitar akan sangat sepi, berbeda dengan Jakarta.

Gambar 4. Foto jendela hotel

Setelah merokok, papa mengajak untuk ke hotel. Taksi segera kami pesan. Tertulis di sana, kami mendapatkan mobil BYD Atto. Ini mobil yang desainernya adalah desainer mobil mewah sekelas Alfa-Romeo, Audi, dan Lambo. Saya penasaran dengan mobil ini yang ternyata di Jakarta ada banyak sekali. Setelah menaikinya, saya merasa cukup nyaman dengan LCD depan yang taksiran saya adalah 11 inch. Kami pun berkeliling Jakarta. Gedung-gedung tinggi mulai tampak. Anak daerah ini tersenyum, memandang gedung yang tinggi. Setelahnya, kami belok ke hotel tempat kami menginap, dan kemudian melepaskan lelah serta beristirahat untuk event besok yang menanti.

To be continued

 

 

 


Comments

Popular Posts