Enam Bulan

 

Tubuhku sebetulnya lelah, namun kantuk seakan menguap, entah pergi ke mana. Pikiranku memang sedang mengelana. Akhirnya, tukang yang membangun rumah kami besok akan berpamitan. Akhirnya, setelah enam bulan tinggal mengontrak di rumah kakek dan nenek, besok aku akan melangkah kaki, dan tidak akan pernah kembali lagi tinggal di sisi nenek dan kakek. Rasanya, perpisahan selalu mengundang air mata. Ada sedikit ketidakrelaan.


Rumahku sudah jadi. Aku senang, tentu. Namun, aku harus berpisah dari nenek dan kakek. Pemilik rumah yang sangat ngemong, ngayomi, dan membuat kami nyaman tinggal di sini. 


Pagi tadi, nenek menangis. Menyadari, kalau aku dan nduk, tidak akan menjadi tetangga temboknya lagi. Biasanya kami selalu meramaikan hari dengan Zoya yang berangkat pagi, dan aku yang berangkat kerja. Besok, kami akan meramaikan sekali lagi, dengan membawa tukang yang banyak, dengan keramaian yang tidak seperti biasanya, namun setelah itu, seperti kembang api, meriah, kemudian lenyap.


Malam ini ternyata ganti aku yang menangis. Aku menangis, karena harus berpisah dari tetangga yang amat baik. Nenek tidak minta dijenguk. Nenek berpesan, untuk mendoakan beliau dan kakek, agar sehat dan panjang umur. Aku menangis.


Walaupun kesibukan kampus membuatku sangat jarang ngobrol dengan beliau, namun yang biasanya hadir, kemudian tidak ada, rasanya akan ada bagian hati yang kosong. Akan tetapi, beginilah hidup, bukan?


Nenek dan kakek itu sangat perhatian. Apa yang beliau lakukan bisa terasa sampai hatiku. Tulus. Tidak ada pamrih. Setiap aku mau memasukkan motor, kakek yang sudah berjalan dengan tongkat itu, rela mengambil dingklik penahan pintu, agar aku tidak tersandung. Setiap ada motor putranya, beliau mau menggeser, padahal untuk berjalan saja kakek sudah kepayahan, namun setulus itu kakek. Nenek juga demikian. Beliau sering menceritakan tentang keluarganya dan bagaimana babatnya dahulu bersama kakek. Aku sering mendengar dengan saksama, mendengar tutur dari beliau berdua. 


Nenek dan kakek itu rukun sekali. Setiap kakek memanggil, nenek menjawab dengan lembut, dengan kata dalem. Dua hari sekali, nenek kakek cuci baju, bersama-sama di depan rumah. Kakek yang mengucek, nenek yang menjemur. Aku menangis. Selimutku basah. Pemandangan itu tidak akan pernah aku lihat lagi. 


Aku tidak paham kenapa Allah memilihkan tempat ini dulu, saat kami bingung mencari tempat singgah. Ternyata memang agar aku utamanya, mengenal ketulusan tanpa pamrih, senyum tulus tanpa maksud apapun, dan belajar menurunkan ego seperti kakek dan nenek. Sebelum aku tinggal di sini, nenek dan kakek berbeda di pandanganku. Setelah aku tinggal, tumbuh rasa sayang dan kagum kepada beliau berdua. 


Belum lagi, tentang tukang yang tiap hari membangun rumah. Tiap hari bersua, tiba-tiba besok sudah jadi karyanya. Tiap hari ngobrol ini itu, tiba-tiba besok sudah terakhir kali kami bertemu. Entah di kebetulan mana lagi, kami nanti bisa bertemu.


Membangun rumah impian, ternyata membuat kami bersua banyak orang. Rumah kami, melibatkan banyak sekali orang. Aku bersyukur bertemu dengan semua yang hadir. Enam bulan berlalu. Istana kami sudah jadi. Terima kasih untuk semua hati yang ikut menyaksikan setiap jengkal prosesnya. 


Hidup harus berlalu bukan. Beginilah hidup. Semoga Allah bangunkan istana di surga untuk orang-orang baik, yang memilih menjadi baik, yang berbuat baik dan membantu kami selama ini. 


Terima kasih. Terima kasih, nenek kakek, terima kasih, Pak Dido, Mas Kabul, Pak Susanto, Pak Mukri, Dek Dhimas. 


Dan paling terima kasih, untuk Papa, yang sampun siang malam madosaken kami, agar kami hidup layak, cekap, bahagia dan mulia. Semoga Allah muliakan hidup papa dunia akhirat.


❤️


Sudah sampai pada akhirnya, cerita ini …

Comments

Popular Posts